Wisata Kuliner di Tegal (1) April 23, 2008
Posted by -astri- in daily life, jalan-jalan, ma'em & mimi'.trackback
Tentunya pada inget pas pertengahan bulan Maret kemaren, seluruh (baca: mayoritas) penduduk Indonesia sedang mengalami masa-masa bahagia. Kenapa? Karena oh karena, ADA LONG WEEKEND! (Urgh, ga penting banget sih lo..)
Tersebutlah di akhir minggu yang menyenangkan itu, seorang karyawati yang baru saja menyelesaikan minggu pertama pekerjaannya bersama ibunya, abangnya dan pacar abangnya memutuskan untuk ber-wisata kuliner ke Tegal. Yeah! Inilah ceritanya…
Day 1 – Kamis, 20 Maret 2008
Tepat pukul 14:06 waktu-Indonesia-bagian-mobil-abang-gua-yang-notabene-dilebihin-10-menit, kami berangkat dari Cawang (tepatnya belakang Wisma Indomobil). Sepanjang perjalanan yang melelahkan sepanjang ruas tol Pondok Gede Timur – Cikampek dengan kecepatan rata-rata 10 – 20 km/jam, hiburan kami hanyalah sebuah kaset lagu-lagu Koes Plus (aransemen ulang Erwin Gutawa) yang diulang dan diulang dan diulang terus sampai nantinya kami tiba di Tegal. Argh!
Perhentian pertama kami hari itu adalah pada pukul 17.50 (masih dengan jam yang sama) di sebuah SPBU di Cikampek untuk mengisi penuh tangki bensin dan buang hajat. Dari Cikampek kami meneruskan perjalanan menggunakan jalur Pantura yang kondisinya jauh lebih lengang dari tol Cikampek.
Perhentian kedua kami kurang lebih jam 9 malam, untuk makan malam di daerah Tanjung, 20 menit sebelum masuk Tegal. Nama restoran tempat kami makan adalah restoran Bie Seng. Restoran yang punya generator karena lampunya tetap menyala meskipun di sekitarnya gelap gulita. Tempatnya buka 24 jam dan penataannya memang tipikal restoran perhentian orang-orang yang sedang melakukan perjalanan jauh.
Menurut cici gua yang lebih sering ke Tegal dengan calon suaminya, makanan yang enak di sini adalah ayam panggangnya. Inilah makanan-makanan yang kami pesan selain nasi putih dan minuman:
- Ayam panggang. Dagingnya lembut, kecapnya enak dan aromanya khas banget.
- Sin ping. Nama kerennya abalone. Bentuk aslinya seperti kerang, tapi cangkangnya besar, tipis dan warnanya pink mengkilat. Bentuk dagingnya sendiri bulet padat.
- Rambak alias krecek. Dimasak kuah gulai dan disajikan panas. Kreceknya tipis dan padat, jadi hampir aja gua kirain itu gulai kikil.
Setelah makan malam, kami langsung lanjut lagi. Dan akhirnya jam 10 malam kami pun tiba di rumah saudara kami. Disambut om dan tante, kami pun berbincang sejenak.
“Dah pada makan?”
“Udah tante. Tadi di Bie Seng.”
“Lha, ternyata dah pada makan. Tadinya sih om sama tante mau ngajak makan sate kambing. Apa mau istirahat terus satenya besok aja?”
“Masalahnya besok itu Jumat Agung, tante. Kan pantang (ga boleh makan daging) sama puasa (makan kenyang satu kali aja).”
“Hmm. Iya ya. Apa sate kambingnya Sabtu aja terus malem ini cari yang lain?”
“Pengennya sih Sabtu itu ke Guci tante. Lagian kan ada misa malem Paskah. Takutnya ga sempet.”
“Kalo gitu kita cobain aja deh. Mungkin masih ada yang buka.”
“…”
“…”
Dan benar para pembaca, malam itu petualangan kami berlanjut ke Sari Mendo. Tempat makan sate kambing yang buka sampe jam 1 malem. Cocok buat para turis ngidem tapi kemaleman seperti kami ini. Meskipun waktu sudah hampir menunjukkan jam 11 malam, tapi jumlah sate yang kami pesan adalah 2 kodi (1 kodi = 20 tusuk) plus 5 tusuk dan tak lupa 2 mangkok gulai kambing.
Tujuan utama kami tercapai. Ditemani teh Poci wasgitel (wangi sepet panas legi kentel), kami pun melahap sate-sate embek balibul (bawah lima bulan) tersebut. Makan sate kambing ga lengkap kalo ga pake kecap. Kecap manis di Tegal itu manisnya sedang dan ga terlalu kental, jadinya ga eneg. Ditambah cabe rawit, tomat dan bawang merah Brebes, komplitlah kenikmatan sate kambing itu. Daging sate kambing Tegal itu ga a lot seperti sate kambing pada umumnya. Empuk banget. Apalagi ada kries-kries bawang merah, asem seger tomat sama pedes nikmat cabe rawit. Mantabh!!
Rasa gulainya? Bumbunya enak banget. Seger. Belum pernah gua nemuin yang seenak ini di Bandung. Ditambah buat yang suka sumsum tulangnya. Sedot-sedot.. Gurih banget. Bener-bener wisata kuliner yang sangat tidak sehat sodara-sodara. Hari pertama udah ngebantai kambing. Hehe..
Setelah sate kambing ini, kami pun akhirnya pulang dan beristirahat. Petualangan kami akan berlanjut esok hari…


Comments»
No comments yet — be the first.