jump to navigation

dongeng sang gadis dan daging berbulu July 24, 2008

Posted by -astri- in daily life, ga penting, home sweet home, ma'em & mimi'.
trackback

disclaimer: dongeng di bawah ini diwarnai sedikit hiperbolisme dan bumbu-bumbu tambahan untuk melengkapi potongan cerita yang terlupakan. nama-nama tokoh yang terlibat disamarkan untuk menjaga nama baik.

dahulu kala di kota khatulistiwa, hiduplah seorang anak perempuan kecil yang lucu dan menggemaskan. hampir setiap sore, dia menghabiskan waktu bersama ayah dan ibunya di tempat usaha mereka. adapun tempat usaha itu letaknya di jalan arteri kota.setiap jenis usaha ada di jalan tersebut. mulai dari warung kopi, rumah makan bahkan pasar swalayan terbesar di kota itupun ada di situ.

tempat itu sudah seperti rumah kedua bagi sang anak. segala aktivitas dilakukan seperti biasanya di rumah. mulai dari tidur sore, mandi sore, bermain, membaca majalah anak atau komik, mengerjakan pr-nya, mempelajari bahan ulangannya, dan tentu saja makan malam. makan malam kesenangan sang anak pada masa-masa itu adalah kwetiau goreng. hampir setiap hari dia merengek pada sang ibu untuk diajak makan malam di sana.

adapun setiap kali makan kwetiau itu pula, sang anak punya permintaan yang khusus:

jangan pakai daging berbulu.

entahlah apa sebenarnya daging berbulu itu. yang pasti dia tidak pernah mau memakannya, meskipun setiap kali dia makan kwetiau itu, daging itu selalu ada.

waktu tak terasa berlalu, sang anak kini telah bertumbuh menjadi seorang gadis. demi mengejar cita-citanya, dia melanjutkan pendidikannya di kota lautan api. dia mempunyai banyak sekali sahabat dan menghabiskan waktu bersama mereka. kemanapun mereka pergi, mereka selalu bersama.

pada suatu hari, mereka memutuskan untuk makan siang bersama di luar lingkungan kampus mereka. adapun tempat yang dituju mereka bernama mie rica kejaksaan. di sinilah ternyata nasib mempertemukan kembali antara sang gadis dan daging berbulu. pesanan salah seorang sahabatnya ternyata menggunakan daging berbulu itu. terjadilah percakapan singkat antara sang gadis dengan sahabatnya itu.

sang gadis: iiiiihh..kok lu mau sih makan itu? gua dari kecil ga pernah mau lho.
sahabatnya: masa sih? enak tau. lu ga pernah nyoba?
sang gadis: engga. berbulu gitu mana gua mau..
sahabatnya: cobain dulu deh. enak kok. serius.

setelah perdebatan beberapa saat, sang gadis dengan ragu-ragu memegang sepasang sumpit dan mengarahkannya kepada sepotong daging berbulu itu. dengan menutup mata, perlahan dia mengarahkan daging berbulu itu ke mulutnya dan memakannya. kemudian, setelah keheningan beberapa saat, sang gadis mengucapkan kata-kata yang tak pernah disangkanya selama ini.

sang gadis: eh, enak lho.
sahabatnya: lu suka? mau lagi?
sang gadis: ehehe..serius?
sahabatnya: udah, kalo mau ambil aja.
sang gadis: gua ambil ya. ini baru pertama kalinya gua makan ini.
sahabatnya: boong banget sih. kalo lu mau semua bilang aja, gua kasi.
sang gadis: ga, serius. apaan sih ini?
sahabatnya: hah??! lu ga pernah makan babat??
sang gadis: oooo..namanya babat toh. selama ini gua cuma taunya daging berbulu.

setelah itu terjadilah dialog penuh pengakuan yang lugu dan terdengar bodoh itu.

dengan demikian berakhirlah kebencian sang gadis pada daging berbulu. sejak saat itu, sang gadis tak pernah lagi membenci si daging berbulu alias babat itu. kini dia selalu membiarkan daging berbulu itu ketika makan kwetiau goreng. dan tentu saja saat dia makan mie rica, dia memastikan pesanannya berupa satu setengah porsi yamien asin pangsit rebus babat. mereka pun hidup berbahagia selamanya.

-tamat-

Comments»

1. superyayi - July 26, 2008

hahahah.. dongeng pribadi ternyata..

2. -astri- - July 28, 2008

superyayi,
hehehe..iyah..
kok bisa ya gua sebego itu.. hahahah..

3. woelank - July 30, 2008

daging berbulu…
Ampun dah….
gw sempet ngira itu cingur ternyata babat…
(eh.. tau cingur kan? rujak cingur… :D )

4. -astri- - July 31, 2008

mas woelank,
yang idung sapi bukan sih?
emang berbulu juga ya? :)
sering diceritain sih, tapi ga pernah nyobain.
enak ga?
siapa tau cuma bentuknya yang ga karuan tapi rasanya karuan.
seperti daging babat itu. :p

5. woelank - August 3, 2008

rasanya?
hmmmm…
susah untuk diwujudkan dgn kata2..
pokoknya mak nyus (sambil merem mknnya biar ga ngeliat bentuknya)